Selasa, 16 Januari 2024

Aku hanya ingin dihargai

Tiara sedang berjalan pulang dari sekolahnya dengan wajah yang terus tersenyum sembari membawa raport di pelukannya, dirinya sangat tak sabar untuk menunjukkan raport tersebut kepada orang tuanya. Tak lama dirinya pun telah sampai ke rumahnya karena jarak rumah dan sekolahnya tak begitu jauh.

“Assalamualaikum..” ucap Tiara saat memasuki rumahnya.

“Waalaikumsalam..” sahut orang tuanya yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu.

“Ibu.. ayah.. lihat raport ku sudah diberikan dan apa kalian tau? Aku mendapatkan juara 2 dikelas” ucap Tiara dengan senyum yang berseri-seri.

“Sini ibu mau lihat raport kamu” ucap ibunya.

“Hmm.. ini sudah lebih baik dari sebelumnya, tingkatkan lagi ya!” ucap ibunya.

“Baik bu” jawab Tiara.

“Coba mana? Ayah mau lihat nilaimu berapa?” lalu ibu Tiara pun memberikan raport tersebut.

“Apa ini? Nilai matematikamu cuma 89 saja? Terus lihat ini IPA mu hanya 88?” Ucap sang ayah.

 mendengar hal tersebut sontak membuat Tiara menunduk dan memegangi kedua tangannya.

“Tapi.. itu sudah bagus kan yah.. dan lagipula aku.. dapat juara 2 dikelas..” ucap Tiara dengan nada yang bergetar dan tentunya masih dengan kepala yang menunduk.

“Bagus? Nilai segitu hanya dapat B! Contoh dong sepupu-sepupumu mereka selalu saja juara 1 nilainya pasti A tidak ada tuh yang B” ucap ayahnya yang sedikit membentak.

“Kenapa selalu mereka yang selalu ayah banggakan saja yah? Aku ini anakmu tolong hargai aku sekalii saja yah” mohon Tiara dengan mata yang telah berkaca-kaca.

“Apa yang ayah katakan ini nyata adanya! Tingkatkan nilai dan peringkatmu di semester depan maka ayah akan menghargai mu”

“Kalau aku tidak dapat peringkat.. apa yang akan ayah perbuat?” tanya Tiara yang sedang menahan tangisnya.

“Ayah akan membuang apa yang membuatmu tidak fokus saat belajar”

“Termasuk.. kucing peliharaanmu!” lanjut sang ayah.

“Ayah tidak bisa begitu!” Bantah Tiara.

“Kucingku tidak ada sangkut pautnya dengan nilaiku!” Lanjut Tiara.

“Tapi konsentrasi mu lebih banyak ke peliharaanmu itu, otomatis dirimu tak akan fokus kepada mata pelajaran mu dan hal itu membuat nilai raport mu turun!” ucap sang ayah dengan tekanan di setiap ucapannya.

Ibu Tiara yang melihat hal itu sontak melerai mereka, agar keduanya tak bertengkar.

Lalu dengan nafas yang masih menggebu-gebu Tiara pun berucap “Jadi aku hanya perlu dapat peringkat pertama dan nilaiku di atas 90 maka ayah tidak akan membuang kucingku begitu?”

“Iya” jawab sang ayah.

“Ayah harap kamu tidak mengecewakan ayah, Tiara”

“Baik, aku akan berusaha yah” final Tiara

“Ayah ibu aku masuk ke kamar dulu ya” ucapnya dengan tersenyum simpul.

Tiara pun berjalan menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya, karena kamar Tiara berada di lantai atas. Setelah dirinya masuk ke kamarnya dengan segera ia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang mengganggunya saat ini.

“kenapa harus selalu dapat sempurna sih, aku lelah mengejar nilai.. lagipula mengapa mereka selalu saja dibandingkan denganku” ucap Tiara sembari merebahkan dirinya ke kasur.

“Ya.. keputusanku untuk tidak berlibur ke rumah mereka ternyata keputusan yang baik, aku sangat muak dibandingkan dengan Lili dan putri aku tau mereka pandai, cantik, rajin tapi tak seharusnya bukan, mereka selalu disandingkan denganku terus” ujar Tiara dengan muka tertekuk.

Tiara saat ini sedang menduduki bangku kelas 6 SD tapi mengapa ayahnya selalu menyuruhnya mengalahkan atau menandingi sepupu-sepupunya yang sudah menjadi anak-anak SMP?

Tiara yang terus menerus memikirkan hal tersebut membuat kepalanya menjadi pusing lalu dirinya pun memutuskan untuk tidur guna menghilangkan pusing dan penatnya.

Hari pun silih berganti.. sudah lebih 5 bulan dari perjanjian Tiara dan ayahnya. Dan semenjak hari itu, Tiara sering kali begadang guna mempelajari pelajaran yang akan diajarkan oleh gurunya disekolah.

Hal tersebut berdampak positif dikarenakan Tiara yang saat ini selalu bisa menjawab apa pun yang gurunya terangkan dan tentunya jika ada hal positif pasti ada hal negatifnya juga bukan? Sisi negatifnya jadwal tidur Tiara menjadi kacau balau.

Dirinya jarang makan, minimal hanya 1 kali sehari itupun jika dirinya ingat. Dan dirinya telah memiliki mata panda yang cukup hitam dan besar, hal itu tak masalah bagi Tiara (mungkin).

Tapi yang menjadi masalah besarnya dirinya sekarang sering mengalami sakit kepala yang cukup hebat, hal tersebut membuat dirinya meminum obat sakit kepala dengan dosis yang cukup besar dan dirinya meminum obat itu tanpa berkonsultasi kepada dokter.

Tiara menganggap bahwa itu hanya sakit kepala yang biasa saja dan tak membutuhkan tanganan dokter. Padahal teman-temannya seringkali mengingatkan dirinya agar berkonsultasi kepada dokter guna mengetahui dirinya sakit apa tapi dirinya selalu saja menolaknya seperti saat pagi ini.

“sekali-kali periksakan ke dokter.. mana tau kamu dapat penyakit yang cukup parah Tiara..” ucap Bella mengingatkan Tiara berkali-kali.

“Sudah kubilang aku tak apa-apa aku baik, jadi berhenti mengomel padaku Bella” elak Tiara.

“Aku begini karena aku mengkhawatirkan dirimu tau” ucap Bella.

“Iya aku tau.. tapi aku tak apa-apa, aku baik..”

“Iyaa aku tau kamu baik-baik saja, tapi cobalah memeriksakan keadaanmu” ucap Bella

“iyaa benar yang Bella katakan Tiara” ucap Anna membela Bella.

“Aku tau kalian cemas tapi tak apa.. hanya sampai ujian kita ini selesai aku akan memeriksakan diriku.. jadi berhenti mengomel padaku oke?” ucap Tiara menenangkan kedua temannya itu.

“Ya.. ya terserah aku pun lelah telah menasihatimu terus menerus” gurau Bella. Tiara yang mendengar hal tersebut hanya bisa tersenyum kepada Bella, senyumnya seakan mengatakan bahwa dirinya itu akan baik-baik saja.

Beberapa minggu kemudian tibalah hari kelulusan Tiara, Tiara pun sangat-sangat gugup dengan hasil peringkatnya dan tibalah waktu pemanggilan peringkat kelas 6 SD tersebut, peringkat ke 3 diambil oleh Ananda Anna, peringkat ke 2 diambil oleh Amanda Putri arabella.

Tiara yang mendengar kedua temannya itu senang tapi sekaligus takut dan khawatir bahwa dirinya tak akan mendapatkan peringkat 1. Dan bertepatan dengan itu pemanggilan peringkat pertama pun dilanjutkan.

“Peringkat pertama dari kelas 6 SD Kamboja adalah.. Tiara Putri Laura”

Tiara yang mendengar hal tersebut sangat-sangat terkejut dan sangat senang sekali, mimpinya untuk memenuhi persyaratan ayahnya pun terpenuhi. Dan dirinya juga dapat membuktikan bahwa dirinya juga bisa.

Dan tibalah saat pemberian piala, setelah sang guru memberikan piala kepada Tiara, Tiara merasakan pusing yang luar biasa dan sudut pandangnya menjadi sangat buram dan “Bruk”.

Tiara pun jatuh dan juga dirinya mengalami mimisan, hal tersebut membuat ayah Tiara berlari ke arah panggung dan segera membawa Tiara ke rumah sakit terdekat, namun naas Tiara telah menghembuskan nafas terakhirnya saat perjalanan menuju rumah sakit.

Hal itu membuat ayah dan ibu Tiara menjadi sangat syok karena di hari kelulusan putri sulungnya itu malah menjadi sebuah tragedi yang menyedihkan.

Tak lama bibi Tiara datang dengan sepucuk surat ditangannya dirinya memberikan surat tersebut kepada ayah Tiara dan ternyata surat itu adalah surat yang ditulis oleh Tiara tadi pagi sebelum dirinya berangkat ke sekolah.

Ayah..

Aku tak tau mengapa aku ingin sekali menulis surat ini.. aku rasa aku tidak akan mendapatkan peringkat itu.. maaf mengecewakan dirimu ayah, dan soal peliharaanku ayah boleh membuangnya sesuai dengan perjanjian kita. Aku tau ini lucu padahal kita satu rumah tapi mengapa aku malah menulis surat ya yah? Tapi entah mengapa aku seakan tak bisa mengatakan hal tersebut padamu yah..

Aku sayang ayah walau aku tak pernah mengatakannya.

Salam hangat..

Tiara Putri Laura..

Setelah membaca kata-kata tersebut ayah Tiara pun mulai menitikkan air matanya, dirinya secara tidak sadar tidak menghargai apa yang telah dicapai oleh putrinya sendiri. Mengapa ketika telah tiada dirinya baru menyadari bahwa dirinya sangat-sangat tidak adil kepada putrinya itu.

“Nak.. yang gagal itu bukan kamu, yang gagal itu ayah.. ayah gagal menjadi seorang ayah yang baik untukmu.. dan kamu telah berhasil memenuhi perjanjian kita dan ayah tidak akan membuang peliharaanmu ayah akan menjaganya sampai kapanpun, maafkan ayah, ayah minta maaf” ucapnya sembari mengelus telapak tangan putrinya yang telah dingin.

“Kamu benar-benar berhasil menunjukkan bahwa kamu bisa.. ayah sangat-sangat salut padamu nak..” ucap ayahnya dengan tersenyum simpul.

Kata orang penyesalan selalu berada di akhir dan apa yang dikatakan oleh orang-orang tersebut benar nyatanya. Andai kata ayahnya tak menegaskan bahwa dia harus mendapat peringkat itu mungkin sekarang putrinya masih bisa tersenyum di sampingnya dan dapat bercanda ria dengannya.

Tapi apa boleh buat takdir telah menuliskan setiap kisah seseorang, tak akan ada yang tahu bagaimana takdir akan terjadi, jadi bila dirimu telah mempunyai seseorang yang kau sayang sebisa mungkin jangan menyakitinya dan hargailah perasaannya. Karena kita tak pernah tau kapan orang itu akan pergi dari kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku hanya ingin dihargai

Tiara sedang berjalan pulang dari sekolahnya dengan wajah yang terus tersenyum sembari membawa raport di pelukannya, dirinya sangat tak saba...